SUNMOR, Wisata Teduh Minggu Pagi 

Oleh: Didimus Estanto T.

Pasar  Mingguan SunMor (Sunday Morning) adalah pasar mingguan yang berisi jajanan, pakaian, tempat makan, perkakas rumah tangga dan berbagai barang keperluan lainnya. SunMor kian kemari menjadi salah satu tujuan wisata minggu pagi di Yogyakarta. Biasanya pasar mingguan ini buka mulai jam tujuh pagi sampai sekitar tengah hari jam sebelas hingga duabelas. SunMor belokasi di sekitar Fakultas pertanian dan perikanan Universitas Gajah Mada Yogyakarta.bagi sahabat yang ingin berkunjung untuk berbelanja, menikmati jajanan, melihat buku-buku dan berbagai perkakas dengan harga yang terjangkau, SunMor merupakan salah satu pilihan yang baik (terlebih untuk para mahasiswa ) atau juga untuk para sahabat yang hanya ingin jalan-jalan dan menghabiskan waktu minggu paginya. SunMor menawarkan wisata minggu pagi yang teduh dan sangat ramah.

Berikut beberapa foto tentang SunMor























MARI MENCINTA, MELAYANI
(Refleksi Ringkat Pekan Suci 2016)
Oleh: Didimus Estanto T.

Kehidupan sejatinya merupakan  suatu petualangan yang terus mendaki. Kisah setapak demi setapak yang menuntun kita dari ketidaktahuan menuju ketercerahan. Sebuah napak tilas gelap menuju terang, keadaan tak bernafas, jantung mulai berdegub hingga ke keadaan tak bernafas lagi dengan jantung terlelap. Kisah kematian menuju kebangkitan secara sempurna adalah Kristus. Dia bukan hanya melaluinya, namun itu adalah Dia. Hidup adalah kata bermakna ganda, yang berarti ada pun berarti keadaan di mana  mengisi ke’ada’an tersebut. Melalui kisah sengasara, wafat dan kebangkitanNya, Kristus menunjukan bahwa cinta adalah satu-satunya hal yang dapat menjaga kehidupan tetap layak untuk dihidupi.

Apa yang terjadi dalam kisah sengsara?
Via dolorosa (kisah sengsara) merupakan suatu ringkasan dari bukti cinta Yang Ilahi. Cerita ini adalah catatan sejarah yang sangat berharga bagi semua yang bernafas karena di sinilah sebuah konsep kehidupan diingatkan, dijelaskan dan dibuktikan dengan seluruh jiwa dan raga. Minggu daun-daun adalah cerminan gemerlap dan sorak-sorai manusia, Kristus sebagai raja yang disoraki karena kerinduan akan kebebasan, kehausan akan pembebasan. Kamis putih adalah bukti pelayanan seorang raja kepada rakyaktnya, pengajaran seorang guru yang diturunkan kepada para muridnya. Jumat agung ialah tanda nyata bahwa ia berkorban untuk dosa yang tak Ia perbuat, bahwa seluruhnya Ia berikan kepada semua cibtaan. Dan sampailah pada cahaya, paskah adalah moment kemenangan. Alleluia adalah sorakan kebangkitan, tanda bahwa kematian bukanlah akhir. Kristus menang akan alam maut, bahwa sejatinya akan selalu ada cahaya setelah kematian, bahwa semua insan punya harapan akan kehidupan setelah kematian.

Mengapa kisah sengsara penting?
Setapak adalah tanda adanya harapan, seribu dimulai dari satu. Kristus mengajarkan proses, setiap detailnya penting. Kisah sengsara menunjukan bahwa Ia benar-benar manusia yang berdarah, adalah Allah yang Maha Kuasa. Ia sakit, takut, mati seperti layaknya mahkluk fana, namun Ia bertahan, terus berjalan dan bangkit. Dalam via dolorosa kita menemukan puncak penyerahan diri, titik nadir dari rencana keselamatan Allah. Kita sampai pada kesimpulan bahwa, Ia adalah Yang Kuasa yang datang untuk menyelamatkan melalui proses sakit yang luar biasa, melalui kegelapan yang mencekam menuju terang yang menyelamatkan. Kisah sengsara adalah bukti harapan menjadi nyata dalam Kristus. Manusia yang fana itu, Anak Allah itu, Kristus datang membawa cinta dalam harapan akan cahaya.

Apa yang Kristus ajarkan?
Satu hal yang membuat kehidupan ini masih layak untuk dihidupi adalah karena cinta. Cinta, itulah hukum baru yang ingin Kristus ingatkan, jelaskan dan buktikan dalam seluruh perjalanan karya keselamatanNya. Tapi cinta itu apa? Cinta Kristus itu seperti apa? Kehidupan sejatinya berjalan ke atas, memiliki cita-cita yang ingin dituju, namun Kristus memberikan contoh yang berbeda. Cita-citanya menjadi pelayan, hamba bagi orang lain (peristiwa pembasuhan kaki pada malam kamis putih). Cinta, bukti paling nyata dari cinta adalah melayani, kurang lebih seperti itu yang Kristus ingin tekankan, ingatkan dan ajarkan. Bayangkan seseorang sedang bersama pasangannya (dalam konteks masyarakat modern), praktisnya seseorang akan melakukan apapun untuk pasangannya, jika itu benar-benar cinta. Mengantar, menjemput, mentraktir, mengajak jalan, menjenguk jika sakit dan masih banyak lain contoh tindakan yag dilakukan saat seseorang mencintai seseorang. Sadar atau tidak kita melayani pasangan kita, itu adalah bukti cinta yang paling nyata yang bisa dan selalu kita lakukan. Itulah cinta, pelayanan yang telah ribuan tahun lalu Kristus ajarkan dan masih tetap relevan hingga kini. Cinta adalah melayani.

Ia yang telah wafat untuk keselamatan semua insan. Ia yang telah memberikan segalanya kepada seluruh cibtaan. Ia yang telah hidup, ada dalam kehidupan pun membuat ke’ada’an itu berarti dalam cintaNya yang sungguh sepurna. Agape, cinta yang tak berhingga adalah warisan, ajaran dan cara hidup yang Ia lepaskan untuk terus hidup dan dihidupi di bumi. Seluruh cibtaan seharusnya bertanggung jawab akan darahnya, pengorbanannya dan cintannya. Seluruh cibtaan punya tanggung jawab untuk melanjutkan cita-citanya, mencintai sesama cibtaan melalui melayani. Via dolorosa adalah perjalanan kehidupan yang mengajak semua cibtaan untuk sedikit beristirahat akan dunia, melihat apa yang telah dibuat dan bagaimana seharusnya hal-hal terjadi dalam kehidupan.  Marilah membuat Ia pantas menderita untuk semua cibtaan, marilah membuat dunia ini pantas untuk tetap dihidupi, marilah mencinta dengan melayani.








GRATEFUL FOR CARRYING EDUCATION

Becoming a grateful person is the part which I mostly concern about. I am Didimus Estanto Turuk, one of a thousand people who love to share with others. I was educated in the Seminary Junior High School and Senior High School. There was an important part of my life which all my sense of carrying others was built. The catholic system made myself realize  that the most valuable thing in this life is being valuable for others. From that moment on, I keep struggling myself to help people as best as I can. Like I said before, being grateful is the core of my life, and carrying people is the reality of being grateful.
Parents is the creature that I love the most. A chance to live is a very big deal that they cooperate with God for making me alive. I really thank for the grace of this breath. They are such a simple and strict parent which I give all my respect. I honor them very much. My father is a private employee in a private company. He came from a poor family in an isolated area in East Nusa Tenggara. He is a D1 graduate in civil engineering by his own struggle. He love to farm, especially coffee, because coffee is the best commodity in my district. Then, my mom is a humble and passionate old woman. She came from such a middle class family. Her father is a simple civil servant and her mother is a housekeeper. My mother graduated from nurse school when the age of 19 and then work on that passion until now. She is not so emotional person but quite clever to arguing something, give me some best advice to step forward. I am so glad for having them as my incredible parent.
Education is a media to reveal the social class, the tool to upgrade the pride in the eye of society. I believe that education is more than just that thing. Education is a media for making human become humanist. I am sure that education is not just about learn something, but there is a lot of its friend that we need to explore, unless I try to fulfil that thing. I came from a common family which come with that idea of ‘belajar’. My fist school is a kindergarten in St. Maria Fatima Kindergarten, then St. Maria Ruteng III elementary school, after that I join seminary. The next level of senior and high school I spent in Seminary Pius XII Kisol. Right after high school, I once joined the first step to study philosophy to become a priest, but I decided to run out because I had no passion there. Today, I am here, at Sanata Dharma University, try to continue what my people said about ‘belajar’. Education is not just a tool, it is the ‘belajar’ its self. From all the school I have passed, I understand that education is home for being humanism or just say human. There is a theory that we are an animal as a body structure, but with a little conscience. The part of this conscience is the one that we/ I want to keep exist. Keep being human, that the most important part of education, I believe.
Despite the fact that I really concern about ‘belajar’ and education, I try to keep it alive. I’d love to bring it in my real live. Therefore, I starting to join some community that keeping people to learn. I join Lembaga Katolik Mahasiswa (Yogyakarta),  Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesi (PMKRI), SanPio (a local movement concern about my district based on our seminary). When I went one-step ahead after my high school, I came to an idea that ‘belajar’ is about sharing what you know, have and experience. The concept, idea, argument or whatever the form will not going anywhere if you do not share it to others, at least let people know. From that idea, I started to seek some organization or just group which can support that idea. Fortunately, I sat in the good place for it. In that group and organization I can share what the idea that people deserve to know, express my concern about others and criticize what I think was not right. Besides joining those kind of organization, I do also love to write. I am sure that writing something is a good way to arrange our brain, passion, and sense of carrying. Mostly my writing are about romantics, but there are also essays about society, multiculturalism, education and other critics about what is going on in my beloved country. Writing is also a tool to share what my brain think about, the idea and some good concepts.
Carrying others, society and country is not just a duty, it is a responsibility. It is an idea of human who humanist. I bring it in my soul or I am trying to be the man like that. That’s why I am good enough for this scholarship. I am sure that ‘belajar’, that we all sure that is important will affect much more to the knowledge, capability and humanity for a person. The best and the appropriate learning process is also affect the result of the quality of the student and in the same time affect the way and the material which that student will share. I believe that educate people is a responsibility for those who educated. I hope by this scholarship, I can maximize the quality of my ‘belajar’. By accepting this scholarship, I can give more for those who need it. By the tittle of educated people, I think that’s my honor to share this treasure of being humanism to others. By the concerns of educate, sharing and carrying people, I think I deserve for this scholarship. This scholarship is also I think a media by people who concern about educating, sharing and carrying other people. This scholarship is also a tool for making human to be humanist, just like what I have believed along this journey.
Becoming a grateful person, back to the first idea that I express in this essay. I am very grateful for being in this level now. It is an honor to bring my idea of sharing idea, educating people and carrying others up to this stage. It is not because this scholarship I become carrying people, but this scholarship is such a fascinating news that there are people out there still have a same concern with me. There will also  a big grateful if I am accepted as one of a lucky and deserved people for this chance. There is always a dawn after a dark night, there is always a hope for the better world. Thank you very much for allowing me up to this level and hopefully this  good relation will keep stay good.

Name: Didimus Estanto T.
University: Sanata Dharma University
Phone: 082137548521







Cordoba, the Real City of Light

By: Didimus Estanto T.

(Dimuat di Majalah Aquinas edisi Februari 2016)

Cordoba also called Cordova  is a city in Andalusia, southern Spain, and the capital of the province of Cordoba. It was conquered by invading Islamic armies in the 8th century, and then became the capital of the Islamic Emirate and then Caliphate of Cordoba, including most of the Iberian Peninsula. Cordoba was the city of knowledge and tolerance in the 10th century. Located on the Europe which very dominant with Christianity, Cordoba exist with bright and honor. It brought the new knowledge and concept  about how human race supposed to live. They gave an example to gather together as a different person, religion, and ideology. This purpose influence the way this city is found, built and kept.
Cordoba was founded by the Romans in the 2nd century BC near the preexisting Tartesic Corduba, capital of Baetica, Cordoba acquired great importance during the period of Emperor Augustus. It became the capital of the emirate depending on Damascus in the 8th century. In 929, Abderraman III established it as the headquarters of the independent Caliphate. Cordoba’s period of greatest glory began in the 8th century after the Moorish conquest, when some 300 mosques and innumerable palaces and public buildings were built to rival the splendors of Constantinople, Damascus and Baghdad. In the 13th century, under Ferdinand III, Cordoba’s Great Mosque was turned into a cathedral and new defensive structures, particularly the Alcazar de los Reyes Cristianos and the Torre Foraleza de la Calahorra, were erected.
In the 10th and 11th centuries, Cordoba was one of the most advanced cities in the world as well as a great cultural, political, financial and economic center. Cordoba was the most populous city in the world and under the rule of Caliph Al Hakam II, it had also become a center for education under its Islamic rulers. Al Hakam II opened many libraries in addition to the many medical schools and universities which existed at this time. During these centuries, Cordoba became a predominantly Muslim society with minorities living in a restricted second-class status. Even though they was restricted, they keep honor and respect the other. Caliph Al Hakam II was a really humble man with a great concept of tolerance. He accept every ideology and new concept which build the city into the better place to learn and stay. By applying this tolerance and open minded concept, they were the only one who can go pass the renaissance era with a sparkling civilization.
The most iconic building in Cordoba is The Great Mosque of Cordoba. This is the representation of the tolerance and respectfulness of the diversity of human race. In that time, the issue of Christianity is surely big. The proverb “extra ecclesiam nulla salus” which means there is no salvation outside Church is really influence almost all people in Europe. Therefore, it is really hard for Cordoba to build their civilization of Islamic tolerance. This mosque is erected in 8th century and in the same time when it is built, the Saint Vincent Church is also built. This means they also consider about others religion, others believes. Unfortunately, during the Spanish invasions, Cordoba was captured by King Ferdinand III of Castile on 29 June 1236 and the great mosque of Cordoba was redecorate into a cathedral. Nowadays, the mosque/ cathedral has turned into a museum and no religious activity is allowed and become the main symbol of Cordoba.
To sum up, Cordoba is a real proof of a good society. Cordoba proves that tolerance and respectfulness is a best way to bind the gap of diversity. By applying the good concept, human race can be a sparkling as the stars’ bright on that civilization. Even thought people cannot see what they have done in the past but the past, people can see the proof of the Great Mosque of Cordoba. The great artificial memories of tolerance. They also shown the power of the minor people who live in the different way also can give a precious thing for the world. By inspiring other people with their concept tolerance, Cordoba deserve for the tittle the real city of light.









MULTIKULTURALISME INDONESIA RAYA
Oleh: Didimus Estanto Turuk
Universitas Sanata Dharma
(Dimuat di Majalah Aquinas Edisi II 2016)

Indonesia Raya merupakan seruan pengubar semangat perjuangan para pendiri bangsa. Indonesia Raya adalah suatu kesatuan cita akan mimpi kemerdekaan rakyat terjajah Hindia Belanda. Rasa senasip sepenanggungan sebagai masyarakat jajahan, rasa sakit akan perbudakan yang amat panjang melahirkan kehausan yang kian mendalam akan makna manusia bebas, manusia medeka. Bergerak dalam selimut yang sama sebagai kaum terjajah, manusia Hindia Belanda melompat, mencoba mengambil kembali hakikat bebas yang diambil dari mereka. Dikumpulkan hanya oleh tekad bebas, dikumpulkan hanya dengan tekad merdeka Indonesia Raya tercibta. Saudara-saudara bukan sedarah terlahir. Kekuatan bersama sebagai rakyat yang menderita berkobar, meronta menuntut untuk dipuaskan. Bond Sumatra, bond Java, bond Borneo, bond Bali dan masih banyak lagi masyarakat Hindia Belanda terkumpul demi Indonesia Raya. Semuanya bergotong royong, membangun cita tunggal yaitu Indonesia Raya. Semuanya mengesampingkan tuntutan keinginan pribadinya, kehausan akan rasa merdeka terlalu kuat dibanding kepentingan pribadi. Semua elemen, semua suku, semua agama, semua budaya bersatu dalam kesamaan kehausan akan kemerdekaan. Semuanya bersatu membentuk Indonesia Raya.
Multikultualisme merupakan paham tentang kesetaraaan dalam perbedaan atau kesetaraan dalam keberagaman. Dalam rumusan tersebut terkandung pengertian bahwa multikulturalisme merupakan paham yang mengakui adanya perbedaan atau keberagaman dalam masyarakat, yang antara lain keberagaman budaya. Selain itu, hal yang jauh lebih penting adalah bahwa multikulturalisme merupakan paham bahwa masyarakat yang berbeda budaya atau perbedaan budaya itu memiliki kesetaraan  atau kesederajatan. Kesetaraan yang dimaksud adalah kesetaraan yang dalam penghormatan atau penghargaan yang sama atau saling menghormati agar tercibta perdamaian dalam kehidup bersama. 
Untaian Zambrud melingkar di Khatulistiwa, demikian kata Multatuli menyebut wilayah Hindia Belanda (Furnival, 2009: 1), sebagai suatu wilayah yang yang memiliki bayak pulau dengan kekayaan alam yang sangat besar, di dalamnya tinggal berbagai etnis dan sub etnis. Masing-masing etnis tesebut memiliki budaya, tradisi, kuliner, bahasa, musik, tari dan busana yang berbeda. Sebagian besar dari mereka menganut agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Islam dan lainnya. Menjumpai kenyataan seperti ini,Indonesia adalah Negara yang sangat majemuk. Indonesesia merupakan negara multikulturalis. Sejak dicanangkan, Indonesia telah menjadi  wacana bersama para etnis di wilayah jajahan Hindia Belanda. Sebuah projek politik antar etnis yang berkembang dari keinginan akan kemerdekaan. Hal yangharus digarisbawahi ialah tujuannya satu yaitu mencapai Indonesia Raya. Persatuan dalam perbedaan untuk satu cita, demikian Mohamad Yamin mengatakan perjuangan akan kemerdekaan Indonesia.
Multikulturalisme Indonesia merupakan warisan kolonialisme Belanda. Pengotak-kotakan kelompok masyarakat pada awalnya dibuad Belanda pada awal dekade 1900-an , tepatnya pada tahun 1925 dengan adanya Volkenkaart van Nederlandsh Indie, sebuah peraturn pegklasifikasian penduduk bedasarkan ras dan etnis. Pemerintah kolonial Belanda menetapkan batas-batas daerah etnis serta menunjuk ketua etnis sebagai pemimpin yang mengkoordinasikan masyarataknya kepada para penguasa kolonial. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan para penguasa mengawasi dan mengatur wilayah-wilayah jajahan mereka. Dewasa ini telihat dampak lanjutan dari diberlakukannya peraturan ini. Multikulturalisme yang dulunya membentuk Indonesia, kini menjadi ancaman bagi Indonesia itu sendiri. Pengotak-kotakan masyarakat berdasarkan ras dan etnis mencibtakan primordialisme akan hanya pada suku atau masyarakat tertentu saja. Pada awal pendudukan Belanda, telah terbukti bahwa kecendrungan seperti ini membawa banyak kerugian bagi Indonesia. Adanya catatan tentang politik devide et impera yang berhasil memecah belah Indonesia membuktikan jika primordialisme ke-etnisan bukanlah cara yang tepat untuk menjalankan bangsa.
Multikulturaslisme paham kesetaraan. Multikulturalisme selayaknya merupakan paham kesetaraan dalam keberagaman, seperti yang diterangkan penulis di atas. Namun, kian kemari multikulturalisme menjadi ancaman bagi kelangusngan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia. Begitu banyak konflik yang tercibta atas dasar etnis, agama dan perdedaan-perbedaan lain. Multikulturalisme boleh saja menjadi suatu kekayaan bagi Indonesia, namun ia juga bisa menjadi bom waktu yang sangat rentan dan berbahaya. Menjadi suatu yang berbahaya jika primordialisme ke-etnisan menutupi cita- cita bersama sebagai Indonesia. Kecendrungan ini menjadi masalah yang dihadapi oleh negara majemuk seperti Indonesia. Perbedaan pendapat dan kepentingan masing-masing berbenturan dengan cita-cita bersama. Menjadi berbeda bukanlah masalah karena hal itu telah menjadi bagian dari negara ini, namun yang menjadi masalah ialah pembeda-bedaan dalam masyarakat itu. Multikulturalisme menekankan kesetaraan dalam perbedaam, adanya sikap saling mengakui dan saling menghargai satu sama lain. Semangat ini menjadi landasan besar tercibtanya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Multikulturalisme, bencana ataukah anugerah. Indonesia dengan segala keberagamannya lahir dengans satu tekat merdeka dan dicipta dari kehausanan akan kebebasan yang sama. Kehausan akan kemerdekaan, itu adalah semangat awal berkumpul, bersatu dan meleburnya semua etnis Ibu Pertiwi untuk Indonesia Raya. Kini melihat kenyataan Indonesia dewasa ini, alsan yang sama tidak lagi dapat digunakan. Rasa senasip sepenanggungan sebagai kaum terjajah, penderitaan yangmendalam akan jajahan itu semua telah menjadi alasan yang “basi” bagi para penerus bangsa. Praktisnya, para generasi bumi pertiwi akhir-akhir ini tidak lagi merasakan hal yang sama. Melihat kenyataan tersebut, dapat dikatakan bahwabangsa Indonesia kini tidak lagi memiliki alasan akan persatuannya. Keinginan akan merdeka telah tercapai, persatuan sebagai satu bangsa pun dipimpin oleh hanya beberapa elite politik saja. Pikiran semacam ini mencibtakan kecendrungan untuk menghilangkan cita para pendiri bangsa yaitu Indonesia Raya dan di saat yang sama hanya meguatkan promordialisme ke-etnisan yang mengurangi nasionalisme  bangsa Indonesia. Indonesia yang lahir kemudian ini hampir kehilangan  cita mengapa mereka semua bersatu.
Elusivenya multikulturalisme. Kesetaraan dalam multikulturaslime merupakan suatu yang  elusive (tidak jelas). Kesetaraan dalam perbedaan ini tidak memiliki ukuran pasti yang dapat digunakan sebagai patok acuan. Pedomannya ialah saling mengakui, menghormati dan menghargai satu sama lain. Kesetaraan merupaka suatu kata yang semu dalam permainan politik bangsa ini, karena toh ternyata primordialisme etnis masih sangat kuat. Pada dasarnya itu bukanlah suatu kesalahan karena seorang pribadi dididik lebih intim dalam etnisnya. Seorang pribadi lahir dengan pandangan yang sangat etnikal bukan kebangsaan, jadi adalah wajar jika seseorang memiliki ikatan yang lebih kuat kepada etnisnya lebih dari kepada negaranya. Kenyataan ini menghantar pada suatu pernyataan bahwa sejatinya tidak ada nasionalisme yang betul-betul murni memiliki pandangan kebangsaan tanpa menyimpan kepentingan etnis tertentu. Hal tersebut mengguncang Indonesia, apakah multikulturalisme itu masih relevan atau tidak. Tidak terlepas dari hal tersebut, Indonesia adalah mulikulturalis. Hal ini menjadikan Indonesia tidak dapat terlepas dari kenyataan bahwa dirinya memang banyak, beragam, dan berbeda. Perbedaan menjadi hakikat Indonesia sejak semula, jadi pernyataan akan Indonesia yang multikultural itu masih relevan atau tidak, jawabannya harus relevan.Indonesia telah berbeda sejak semula, itulah Indonesia. Kesetaraan dalam perbedaan memang elusive, namun begitulah cara cara Indonesia memperjuangkan Indonesia Raya. Kembali kepada cara dan patokan para pendahulu yaitu menerima, menghargai dan menghormati satu sama lain.
Ketakutan untuk  menjadi berbeda. Ketakutan untuk menjadi berbeda telah menjadi semacam hegemoni umum yang telah merogoh kehidupan seluruh umat manusia sejak dulu. Keinginan untuk menyeragamkan dan menyelaraskan segala hal dalam satu cetakan menjadi trenpara penguasa dunia. Ketakutan ini sebenarnya yang telah melatarbelakangi perang-perang besar dunia dan penaklukan serta penyerangan di berbagai wilayah dunia, pun Indonesia. Ketakutan ini secara gamblang memecah konsep multikulturalisme, kesetaraan dalam perbedaan. Multikulturalisme menerima perbedaan, menghargai dan menghormatinya sebagai bagian dari kekayaan manusia. Menyetarakan berarti memaksakan konsep tunggal untuk kelompok yang beragam. Hal ini akan memunculkan konflik dan perdebatan dalam masyarakat, bukan hanya karna ada kepentingan masing-masing di sana tetapi lebih karena memang ada perbedaan dalam masyarakat, dan itu harus diterima. Sejatinya multikulturalisme itu tidak akan pernah menjadi satu, tidak akan pernah bisa menjadi seragam namun tetap dapat berjalan bersama dalam perbedaan. Dasar negara Repubik Indonesia, pancasila merupakan cerminan tunggal akan penerimaan, penghargaan dan penghormatan akan perbedaan Indonesia. Mendiang Soekarno menyatakan simpul pusat dari Pancasila ialah Gotong Royong, ‘abaikan perbedaan, mari bersatu untuk Indonesia’. Indonesia telah berbeda sejak awal,namun itu tidaklah menjadi alasan untuk dibeda-bedakan. Para pendahulu menetapkan Bhineka Tunggal Ika sebagai sembohyan NKRI, menunjukan bahwa melalui persatuan dalam perbedaan Indonesia akan menuju Indonsia Raya. Para pendahulu menitipkan perbedaan itu pada generaasi muda Indonesia, menitipkan cita-cita menuju Indonesia Raya.
Negara Kesatuan Republik Indonesia telah beragam sejak semula. Indonesa merupakan persatuan dari berbagai perbedaan kebudayaan manusia Hindia Belanda. Alasan untuk berjuang bersama akan masyarakan terjajah mungkin telah usang dipakai, namun menjadi tugas penting selanjutnya ialah menlanjutkan cita-cita kemerdekaa, menjaga Indonesia Raya. Multikulturalis, itulah Indonesia yang sebenarnya. Indonesia itu beragam, bermacam-macam dan saling melengkapi sebagai satu Indonesia. Berbeda tidaklah menjadi alasan untuk dibeda-bedakan. Para pendahulu telah membuktikan kekuatan dari bergotong royong bersama membangun Indonesia yang satu, membangun kemerdekaan dalam perbedaan. Sikap saling menerima, menghargai dan menghormati merupakan patok kehidupan bersama yang menjadi titik acuan masyarakan Indonesia seharusnya melangkah. Maslaah dan konflik pasti berdatangan sebagai buah dari kekayaan pikiran dan pendapat, namun semuanya harus diselesaikan dalam kerangka kehidupan bersama. Multikulturalisme adalah kekayaan Indonesia bukan sebuah bencana. Indonesia terlahir dalam perbedaan yang mengharuskan semuanya menghargai satu sama lain, menghargai multikulturalisme. Cita-cita kebangsaan  dicibtakan,diusung dan dijaga  bersama dalam rangkaian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persatuan menjadikan Indonesia kuat mengemban cita-cita nasional itu, Indonesia Raya. Menerima, menghargai dan menghormati multikulturalisme, dalam perbedaan membawa Indonesa menunju Indonesia Raya.
                                                                                                                                                                                  






Kado Disentuh Bibirmu
By: Tanto Didimus


Disentuh bibirmu cinta
Jiwaku seperti mendapat kekuatan
Tuk hidup ribuan tahun lagi
Aura hasrat dan keinginan jiwaku
Seperti bermain seirama deruan nafasku
Aku memilikimu
Baru satu kecupan
Tak tahu lagi aku jika kudapatkannya tiap hari
Entah aku dapat hidup beberapa milliard tahun lagi
Engkau bilang aku terus bertambah mencintaimu
Menyayangimu, mengasihimu…
Karena kaulah, Semua karenamu
Ketulusan kekuatan dan kemurnian
Yang kau berikan padaku tiap hari
Selalu menjadi kado yang teramat luar biasa








Jiwaku, Rohmu
By: Tanto Didimus

Aku rasakan jiwamu
Terbang melayang menguasai hatiku
Dalam darasanku tuk keabadian
Mengapa selalu ada kamu?
Jiwaku serasa tak mau berada jauh dari jiwamu
 Jiwaku telah menemukan pasangannya
Setiap hati memegang hangatnya hatimu
Walau kadang ia berdarah
Namun tak pernah ia dingin, tak’an pernah
Rohku merasakan doamu cinta
Rohku merasakan kecemasanmu sayang
Rohku merasakan rindumu kekasih
Terima kasih tlah berbagi roh denganku
Aku bisa terus hidup karenanya